Ramallah – Sahabat Palestina Memnggil-+

Tawanan Palestina di penjara Israel, Sami Abu Diyak (36) meninggal dunia pada Selasa (26/11) akibat ditelantarkan pihak medis di penjara Ramlah.

Forum tawanan Palestina menginformasikan bahwa pihak penjara Israel mulai membunuh tawanan Abu Diyak sebelum melukainya dengan canser akibat kekeliruan dan penelantaran medis secara sengaja, sebagai bagian dari kebijakan sanksi yang dilancarkan pihak penjara Israel terhadap para tawanan Palestina.

Sejak tahun 2015, Abu Diyak mengalami mal praktek pasca operasi bedah di RS Soroca Israel, dimana sebagian ususnya dipotong, yang menyebabkan luka dan keracunan di tubuhnya, dan memicu gagal ginjal dan paru, setelah itu dilakukan tiga kali operasi dan harus menggunakan oksigen selama sebulan, dan kemudian divonis terkena canser, selanjutnya berjuang melawan canser dan para sipir penjara, sampai meninggal hari Selasa pagi, setelah 17 tahun mendekam di penjara Israel.

Syahid Abu Diyak merupakan warga kota Silah Dhuhr di provinsi Jenin, ditangkap pasukan Israel pada 17 Juli tahun 2002, dengan tuduhan melawan penjajah zionis, dan divonis hukuman penjara seumur hidup 3 x ditambah 30 tahun. Abu Diyak memiliki saudara kandung, Samir Abu Diyak, juga divonis penjara seumur hidup, yang menemaninya selama bertahun-tahun di masa sakitnya di penjara Iyadah Ramlah, untuk merawatnya.

Forum tawanan menegaskan, semua upaya telah dilakukan untuk membebaskannya, namun pihak penjara Israel menolaknya meski mereka mengetahui tawanan berada di stadium akhir penyakitnya, dan tetap berada dalam penjara Iyadah Ramlah. Rencananya pada 2 Desember mendatang dijadwalkan persidangan terkait persoalan pembebasan dini bagi Abu Diyak.

Abu Diyak memiliki 5 saudara kandung, termasuk Samir, dan kedua orang tua yang dilarang menyampaikan perpisahan terakhir pada hari ini.

Di antara surat terakhirnya dari penjara: “Kepada semua pihak yang memiliki nurani, aku hidup di hari-hari terakhirku, Aku berharap di hari dan waktu terakhirku berada di samping ibuku dan keluargaku, Aku ingin meninggal dalam dekapannya, dan Aku tak ingin berpisah dari kehidupan dengan tangan dan kaki diborgol, dan di hadapan para sipir penjara, kematian datang dan mengambil semua rasa sakit dan penderitaan kami.”

Abu Diyak merupakan tawanan kedua yang dibunuh penjajah Israel secara perlahan akibat penelantaran medis, sebelumnya tawanan Basam Sayeh mengalami hal yang sama, meninggal pada 8 September 2019, sehingga jumlah tawanan yang meninggal sejak tahun 1967 menjadi 222 orang syahid, termasuk 67 tawanan yang dibunuh lewat kebijakan penelantaran medis secara sengaja.

Dan sejak awal tahun 2019, jumlah tawanan yang gugur dibunuh penjajah Israel ada 5 orang: Faris Barud, Umar Auni Yunis, Nashar Taqatiqa, Basam Sayeh dan Sami Abu Diyak.

Forum tawanan menuding penjajah Israel sebagai pihak yang bertanggungjawab penuh atas meninggalnya Abu Diyak lewat kebijakan penyiksaan terencana, termasuk penelantaran medis sebagai sanksi bagi tawanan, termasuk dilarang berobat atau ditunda pelayanannya, pemeriksaan terlambat, disebabkan penundaan pemeriksaan dan pemindahan ke rumah sakit.

(sumber : info palestina)

Bagikan