Ramallah, Sahabat Palestina Memanggil – Pembantaian Kafr Qasim. Sudah 63 tahun berlalu. Pembantaian ini dilakukan oleh pasukan pendudukan penjajah Israel di kota “Kafr Qasim”, di wilayah Palestina yang diduduki penjajah Israel. Hari di mana pasukan penjajah Israel membunuh dan menumpahkan darah puluhan orang-orang tak bersalah.

Ini adalah salah satu dari puluhan pembantaian yang dilakukan oleh pasukan penjajah Israel selama bertahun-tahun pendudukan mereka di tanah Palestina. Akan tetapi pembantaian ini memiliki dimensi khusus, karena bertepatan dengan agresi tripartit terhadap negara Mesir.

Tujuan pembantaian

Menurut para sejarawan, pembantaian yang terjadi pada 29 Oktober 1956 ini bertujuan untuk mengusir Palestina di daerah “perbatasan segitiga” yang terletak antara wilayah Palestina yang diduduki penjajah Israel sejak tahun 1948 (Palestina 1948) dan Tepi Barat yang saat itu merupakan bagian dari wilayah Yordania, di mana kota Kafr Qasim berada di wilayah tersebut. Target pengusiran ini dilakukan dengan mengintimidasi penduduk kota seperti yang terjadi dalam pembantaian Deir Yassin dan pembantaian-pembantaian lainnya.

Para sejarawan menyatakan bahwa penjajah Israel – yang tidak mentolerir sejumlah besar penduduk Arab di wilayah tersebut – membunuh dengan darah dingin selama tahun 1949-1956, sebanyak tiga ribu warga Palestina. Sebagian besar korban adalah mereka yang mencoba kembali ke kampung halamannya setelah pengusiran mereka ke negara-negara tetangga. Pembantaian-pembantaian ini dilakukan oleh unit khusus yang dipimpin oleh Ariel Sharon, yang dikenal dengan nama “101”.

Dimulainnya pembantaian

Dalam suasana pembunuhan dan dominasi mentalitas pembantaian di Israel, terjadilah pembantaian Kafr Qasim. Yang dilakukan oleh pasukan penjajah Israel menjelang pembantaian pada 11 September 1956. Di mana mereka membunuh 20 tentara Yordanian dalam serangan ke barak-barak mereka. Kemudian membunuh 39 warga Palestina di desa Husaan di pinggiran Betlehem dan 88 lainnya di Qalqilya di bulan yang sama.

Pembantaian Kafr Qasim dimulai ketika komando militer Israel memberi perintah untuk memberlakukan jam malam di desa-desa Arab di “perbatasan segitiga”, yang meluas dari daerah Ummu al-Fahm di utara ke Kafr Qasim di selatan, mulai pukul 17:00 pada tanggal 29 Oktober 1956 hingga 6 pagi keesokan paginya.

Keputusan itu tegas, karena disertai dengan perintah keamanan yang memberi wewenang kepada tentara untuk menembak dan membunuh siapa saja yang berkeliaran setelah jam malam diberlakukan – bukan untuk menangkapnya, tapi menembak dan membunuh – bahkan jika orang itu berada di luar rumahnya pada saat jam malam diumumkan. Karena komando militer Israel mengatakan, “Komando militer tidak ingin berurusan dengan penduduk dengan perasaan.”

Pasukan militer pendudukan penjajah Israel dikerahkan ke desa-desa Palestina di daerah perbatasan segitiga (termasuk Kafr Qasim, Kafr Barra, al-Tira, Jaljulieh, Tayyibah dan Qalansuwa). Pasukan Israel saat itu dipimpin oleh Mayor Shamuel Melinky, yang menerima perintah langsung dari komandan batalyon militer di perbatasan, Letnan Kolonel Yashar Shedmi.

Sekelompok tentara menuju ke kota Kafr Qasim. Mereka dibagi menjadi empat tim. Satu di antaranya tetap berada di pintu masuk barat kota. Komandannya, Yehuda Zshinsky, menyampaikan kepada pemimpin kota kala itu, Wadi Ahmad Sarsur, tentang jam malam, dan meminta dia untuk memberi tahu kepada penduduk agar patuh dan komitmen dengan jam malam tersebut yang dimulai dari jam lima sore.

Sarsur mengatakan kepada petugas Zshinsky bahwa masih ada 400 orang dari penduduk Kafr Qasim yang bekerja di luar kota dan belum kembali. Zshinsky memberikan kepada Sarsur bahwa mereka yang masih di luar akan lewat dengan aman saat mereka kembali, dan mereka tidak akan diganggu oleh siapapun.

Namun, sore itu menjadi hari tragedi yang tak terlupakan dalam sejarah Kafr Qasim dan rakyat Palestina secara umum. Pada jam 5 sore, suara rentetan tembakan terdengar di dalam kota dan memekakkan telinga sebagian besar penduduk. Tentara pasukan penjajah Israel menembaki sekelompok warga yang kembali dari ladang pertanian mereka, yang baru kembali pulang di sore hari. Pasukan penjajah Israel membunuh 49 warga dan melukai puluhan lainnya dengan luka serius, dengan dalih mereka (sekelompok warga tersebut) melanggar jam malam yang tidak mereka ketahui karena diumumkan secara mendadak tersebut.

Para korban pembantaian Kafr Qassem ini adalah para lansia, 23 anak-anak berusia 8-17 tahun dan 13 wanita. Kala itu, jumlah penduduk Kafr Qasir tidak lebih dari 2 ribu jiwa. Di pintu barat kota saja sebanyak 43 warga gugur menjadi korban pembantaian ini.

Para pelaku pembantaian

Pembantaian Kafr Qasim ini dikaitkan dengan nama-nama sejumlah personil militer Israel, seperti Perwira Yashar Shadmi, yang memanggil Shmuel Melinky dan memberitahukan kepadanya tentang keputusan yang mempercayaan kepadanya untuk mengemban tugas menjaga perbatasan dan memberlakukan jam malam di desa-desa Palestina termasuk di Kafr Qasim. Kemudian dia memberi instruksi untuk melakukan pembantaian tersebut.

Pemerintah Israel, yang dipimpin oleh David Ben-Gurion, berusaha menyembunyikan fakta kebenaran pembantaian Kafr Qassem ini. Karena berita pertama yang dipublikasikan di media-media, baru muncul sepekan setelah pembantaian itu terjadi pada 6 November. Mengenai detail peristiwanya, pemerintah melarang dan mencegah agar tidak sampai ke opini publik hingga 17 Desember 1956.

Namun, dua anggota parlemen dari kelompok sosialis, Tawfiq Tobi dan Mayer Flaner, berhasil mengungkap keadaan insiden tersebut setelah mereka menyusup ke kota Kafr Qasim untuk menyelidiki fakta-fakta secara langsung dari para saksi mata dan para korban yang terluka. Mereka menyiapkan dokumen-dokumen untuk disampaikan dalam sidang Knesset Israel, serta mengirimkan dokumen-dokumen khusus yang terkait dengan insiden tersebut kepada media-media, kedutaan-kedutaan asing dan semua anggota Knesset (parlemen).

Upaya mereka berhasil memaksa pemerintah penjajah Israel untuk membentuk komite pencari fakta dan memulai penyelidikan yang menghasilkan persidangan terhadap mereka yang bertanggung jawab atas pembantaian tersebut, yang dilakukan oleh pemerintah Israel. Maka digelarlah sidang pengadilan formalistik, di mana perwira Shmuel Melinky dijatuhi hukuman penjara 17 tahun, Gabriel Dahan dan Shalom Ofer dijatuhi hukuman penjara 15 tahun, dan prajurit lainnya dijatuhi hukuman penjara delapan tahun.

Sedangkan Komandan Pasukan Penjaga Perbatasan, Letnan Kolonel Shedmi, yang memerintahkan pembantaian tersebut, dibebaskan dari kejahatan dan didenda satu sen. Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Israel Haaretz, Shedmi mengatakan bahwa dia telah melakukan “perintah tertinggi” ketika dia memerintahkan tentaranya untuk membunuh warga sipil, dengan mengatakan, “Habisi mereka.”

Vonis terhadap para pelaku kemudian diubah dan diperingan menjadi 14 tahun untuk Melinky, 10 tahun untuk Gabriel Dahan, dan sembilan tahun untuk Shalom Ofer. Kemudian dikurangi sekali lagi menjadi penghapusan hukuman secara final. Karena ada intervensi dari kepala negara maka hukuman hanya dikurangnya menjadi lima tahun untuk Melinky, Ofer dan Dahan. Dari mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan tersebut, yang terakhir dibebaskan apda awal tahun 1960.

(sumber : info palestina)

Bagikan