Berikut adalah catatan pelanggaran dan penistaan Israel selama bulan juni 2020, antara lain

Kamis 11/6/2020: 104 orang pemukim Yahudi, 59 orang lainnya dari kalangan mahasiswa kampus Zionis Israel, merangsek ke masjidil Aqsha dan menerima penjelasan soal “tempat ibadah” sesuai riwayat Talmud yang dipalsukan.

Ahad, 14/6: 57 orang pemukim Yahudi merangsek masjidil aqsha. Orang-orang ini menggunakan masker dan membawa bendera Israel dengan yel-yel rasis dari ajaran Talmud yang melukai perasaan jamaah masjid kaum muslimin. Sambil mengambil foto di dalam masjidil Aqsha.

Rabu, 17/6: ada 174 orang pemukim Yahudi, 126 salah satunya dari kalangan mahasiswa kampus Zionis Israel, merangsek masuk ke masjidil aqsha dengan kawalan pasukan keamanan dan inteligen Zionis Israel. Di tengah-tengah perangsekan, para pemukim Yahudi ini mendapatkan penjelasan profokasi tak berdasar tentang sinanog Yahudi. Aksi ini terjadi di tengah-tengah aksi profokasi untuk menunaikan ibadah Yahudi di pelantara masjid khususnya di bagian pintu ar-Rahmah.

Aksi-aksi perangsekan ini dibarengi dengan langkah-langkah profokasi Zionis Israel terhadap pengurus dan penjaga masjid. Sebagai contoh tanggal 11/6 polisi Israel mengusir penjaga masjid bernama Isam Najib selama 5 bulan lamanya. Pada tanggal 12/6 pihak keamanan Israel menahan penjaga masjid lainnya, Muhammad as-Sanjali dan mengintrogasinya dengan tekanan.

Dengan kembalinya perangsekan Yahudi di bagian timur masjidil Aqsha secara intensif, Syekh Ikrimah Sobri pada tanggal 10/6  mengingatkan tentang rencana Yahudi menguasai wilayah tersebut, dengan bukti pihak keamanan Israel melarang renovasi masjid dalam bentuk apapun.

Yahudisasi Demografi

Pihak keamanan Israel tidak berhenti mentargetkan warga Palestina dan wilayahnya dengan langkah-langkah profokatif sebagai berikut:

– Tanggal 15/6, pihak keamanan Israel menahan tiga saudara dari suku Za’tary dari rumah mereka di daerah Tour. Pihak keluarga mengungkapkan bahwa serdadu Israel melukai ibu mereka dan merangsek rumah mereka secara mendadak.

– Pada tanggal 16/6 pihak keamanan Israel menahan 4 pemuda kota al-Quds dengan alasan mereka ikut serta dalam aksi pemukulan seorang rahib Yahudi saat terjadi perangsekan di rumah duka asy Syahid Iyad Halaq. Para pengamat menilai semua penangkapan ini dilakukan dalam rangkaian penerapan sanksi dan upaya untuk menakut-nakuti warga Palestina.

– Menurut pusat informasi Wadi Helwah/Silwan, menyebut bahwa aparat keamanan Israel pada Rabu 17/6 melakukan serangkaian penangkapan besar-besarab di daerah Silwan sebelah selatan masjidil aqsha. Termasuk keluarga dari seorang ibu dan saudra warga Palestina yang ditahan beserta empat anak-anak.

Perobohan Rumah

Dengan target warga kota al-Quds, pihak Zionis Israel melanjutkan aksi-aksi perobohan rumah dan bangunan milik warga kota al-Quds sebagai berikut:

– Tanggal 13/6 pihak Israel memaksa sebuah keluarga al-Quds di daerah Sor Baher untuk merobohkan rumahnya dengan alasan bangunan rumah keluarga itu tidak mendapatkan izin membangun. Pihak Israel bahkan mengancam memberikan sanksi dana sebesar 80 ribu shekel (atau sekitar $ 22 ribu) jika bangunan itu tidak dirobohkan.

– Pada tanggal 15/6 pihak keamanan Israel merobohkan dua rumah yang berpenghuni dan 4 gudang di kamp pengungsi Sa’fat, dalam kondisi kemarahan warga setempat.

– Tanggal 17/6: buldoser-buldoser milik Zionis Israel meratakan bangunan-bangunann di dekat kampus al-Quds di kota Abu Des.

Pemukiman Yahudi: 

– Dewan pemukiman Yahudi (Yasa’) pada tanggal 11/6 menyampaikan rencana penyempurnaan perluasan pemukiman Yahudi “Adam” sebelah timur laut kota al-Quds dengan menambah 1294 unit rumah baru untuk pemukiman Yahudi. Ditambah rencana pembangunan wilayah industri baru di kawasan ini dan pembangunan halte bus serta pom bensin baru. Aksi perluasan pemukiman, menurut para pengamat, sebagai bentuk perluasan wilayah pemukiman Yahudi ke wilayah Lembah Yordania dan Tepi Barat secara luas.

– Pihak Israel pada tanggal 15/6 memulai membangun jalan di kota al-Quds dengan nama ‘jalan Amerika” penghubung antara pemukiman-pemukiman Yahudi yang ada di utara al-Quds dengan pemukiman Yahudi yang dibangun di selatan al-Quds. Di jalan ini juga dibangun terowongan sejauh 1.6 km2 sebelah timur gunung Zaitun. Dengan pembangunan jalan ini, semakin jauh jarak antara desa-desa dan kampung Palestina yang ada di sekitar kota al-Quds.

Pembangunan Terowongan:

– Beberapa koran Israel pada tanggal 15/6 mengungkap bahwa pihak arkeologi Israel menghentikan pembangunan terowongan di daerah Silwan, khawatir terjadinya longsor di daerah tersebut. Keputusan ini diambil setelah banyaknya keretakan tanah dibawah masjidil aqsha. Hal yang sama juga terjadi di bangunan-bangunan yang ada di sekitar masjid. Walaupun keretakan tanah ini terjadi di masjidil aqsha terjadi selama bertahun-tahun, namun penghentian terowongan-terowongan ini tidak berjalan. Bahkan diprediksi, jika tidak segera dihentikan terowongan-terowongan ini, maka akan semakin parah kondisi ini.

Interaksi Dengan al-Quds

– Walau pemerintah Amerika sangat condong dengan Israel, namun sejumlah anggota Kongres Amerika (ada sekitar 54 anggota) melayangkan surat peringatan kepada duta besar Amerika di Israel. Mereka meminta agar kekerasan pemukim Yahudi terhadap bangsa Palestina segera dihentikan. Mereka menyebutkan bahwa angka kekerasan yang dilakukan pemukim Yahudi pada dua pekan terkahir bulan Maret, meningkat hingga 78%. Kekerasan ini meliputi: kekerasan terhadap badan, mencabut pohon zaitun, melempari kendaraan warga Palestina. Para anggota Konggres ini meminta dubes agar mengecam aksi-aksi kekerasan dan segera menghentikannya.

– Berbarengan dengan peringatan 53 tahun jatuhnya kota al-Quds ke tangan Yahudi, sejumlah ulama dunia pada tanggal 13/6 mengadakan forum atau pertemuan dengan nama “Forum ulama Islam dalam menyelamatkan al-Quds dan Al-Aqsha”. Forum ini dilakukan secara virtual dengan program zoom diikuti oleh sekitar 800 ulama dan tokoh Islam dari 64 NGO dari 19 negara.

– Yang utama adalah Persatuan Ulama Dunia dan persatuan-persatuan ulama lainnya. Para peserta forum mengingatkan ancaman bahaya yang akan dialami oleh isu Palestina secara umum, dan kota al-Quds serta masjidil aqsha secara khusus. Isu sensitif yang serius adalah isu normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab, para peserta forum juga menekankan agar diambil langkah-langkah riil untuk menghentikan normalisasi ini agar Palestina dan tempat-tempat suci Islam lainnya bisa tetap dijaga. Forum itu memutuskan beberapa rekomendasi, diantarannya:

Pertama: menetapkan julukan Syekh Ikrimah Sobri sebagai “singa mimbar” atas sikap beliau yang menonjol dalam melindungi dan membela masjidil aqsha.

Kedua: membentuk komisi al-Quds dan Palestina di setiap lembaga ulama di level negara dan koordinasi dengan masing-masing lembaga antar negara agar bisa optimal. Lembaga ulama diminta bertanggungjawab atas isu Palestina ini.

Ketiga: peluncuran program koordinasi antara lembaga ulama di dalam negara khusus untuk urusan Al-Quds dan al-Aqsha.

Keempat: peluncuran program “dompet al-Quds” untuk pengumpulan bantuan dana dari lembaga ulama melalui sumbangan dan komitmen bantuan dari masing-masing lembaga untuk kepentingan al-Quds dan Al-Aqsha.

Kelima: membentuk komisi dari ulama-ulama untuk mengajak Hamas dan Fatah mengakhiri perbedaan dan mewujudkan rekonsiliasi yang di idam-idamkan.

Keenam: membentuk komisi delegasi ulama untuk mengunjungi negara-negara dan berhubungan langsung dengan pemerintahan mengajak dialog tentang isu Palestina sesuai arahan dari forum ini.

(Sumber: Kementerian Waqaf dan Urusan Agama Palestina dan Lembaga Ulama Palestina Diluar)

Bagikan