Sahabat Palestina Memanggil – Ramallah, Ratusan tawanan Palestina yang sakit menghadapi kematian perlahan di penjara-penjara penjajah Zionis karena kebijakan pengabaian dan penelantaran medis secara sengaja dan sistematis yang dilakukan oleh pihak administrasi penjara Zionis Israel.

Dalam sebuah laporan yang dirilis pada hari Ahad (28/7/2019), Komite Urusan Tahanan Palestina mengatakan bahwa lebih dari 700 tawanan Palestina yang sakit, termasuk penderita kanker, jantung, ginjal, tulang, cacat, dan lainnya, terbaring di penjara-penjara penjajah Israel. Otoritas penjajah Israel sengaja mengabaikan kondisi kesehatan para tawanan yang sakit di berbagai penjara dan mendorong mereka ke ujung kematian.

Laporan itu memaparkan kondisi kesehatan yang buruk dari sejumlah tawanan Palestina di penjara gurun Negev, yang hari demi hari semakin buruk akibat kebijakan pengabaian dan penelantaran medis yang disengaja dan sistematis dari pihak administrasi penjara penjajah Israel.

Ksatria di ranjang pasien

Tawanan Muhammad Farouk Abu Rab (45 tahun), dari Qabatiya, selatan Jenin, telah dipenjara sejak 2002 dan dijatuhi hukuman 30 tahun penjara, menderita infeksi telinga, menderita sakit kepala dan pusing, juga menderita masalah dengan katup jantung dan radang lutut kiri. Dia tidak mendapatkan perawatan yang semestinya.

Imad Abdul Karim Abu Zeina (30 tahun), dari Jericho, menderita cedera di tangan kanannya karena masalah tendon (jaringan tebal yang berfungsi menempelkan otot ke tulang) dan saraf. Dia juga menderita sakit di testis karena varises dan kantung air, serta menderita pembengkakan dan iritasi kulit di bawah kedua mata.

Menurut Komite Urusan Tahanan Palestina, tawanan Palestina Saher Abu Omar (35 tahun) dari desa Jama’in, selatan Nablus, menderita patah siku tangan kanan karena serangan terhadap dirinya selama interogasi dan fraktur (patah tulang) dengan cara yang tidak benar. Ini mengakibatkan munculnya dislokasi pada siku. Ketika dia diangkut dengan bus, bertambah lagi akibat jatuh. Dan otoritas penjajah Israel hanya memberinya prostesis, tanpa memperbaiki fraktur atau melakukan perawatan medis yang diperlukan.

Tawanan Abdullah Kharouf (30 tahun), dari Nablus, menderita hernia tulang belakang atau HNP di ruas keempat dan kelima dan belum dilakukan perekaman yang diperlukan atau memberikan perawatan yang diperlukan untuk kesehatannya, dan penjajah Israel hanya memberinya obat penghilang rasa sakit saja.

Pihak administrasi penjara Israel di Ashkelon terus menunda pemberian perawatan yang diperlukan untuk tawaanan yang sakit bernama Na’san (24 tahun), dari desa Mughayir, utara Ramallah, di wilayah tengah Tepi Barat yang diduduki penjajah Israel.

Komite Urusan Tahanan Palestina mengatakan bahwa Na’sam mengeluh tentang cedera sebelum penangkapannya di kaki kirinya, selain menderita luka tembak selama penangkapannya pada tahun 2015, yang menyebabkan dia mengalami masalah dengan otot-otot usus dan anus, sehingga dibuatkan dua kantong eksternal untuk buang air besar dan urin. Dia sengat membutuhkan sesegera mungkin operasi, tetapi pihak administrasi penjara Ashkelon menunda-nunda untuk merujuk ke rumah sakit atau melakukan proses operasinya.

Na’san ditangkap pada 8 Desember 2015 dan dijatuhi hukuman 12 tahun penjara, dengan tuduhan melakukan operasi di pos pemeriksaan militer Israel Za’tara, sebagaimana diklaim oleh penjajah Israel, bersama Qassim Sbaana, yang mati syahid pada tanggal yang sama, yang saat ini mengalami luka parah.

Penelantaran medis

Direktur Pusat Studi Tahanan Raafat Hamduna mengatakan bahwa pihak administrasi penjara Israel telah melakukan kebijakan penelantaran medis terhadap para tawanan Palestina dengan penyakit kronis dan mereka yang membutuhkan operasi bedah.

Dia menyebut apa yang dilakukan pihak administrasi penjajah penjajah Israel tersebut “bertentangan dan melanggar prinsip-prinsip dasar perawatan tawanan yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1979 dan tahun 1990, yang menegaskan kewajiban perlindungan kesehatan kepada para tawanan dan perawatan medis pada orang-orang yang ditahan.”

Dia menjelaskan bahwa sejumlah besar tawanan yang sakit sedang menunggu giliran operasi yang kadang-kadang membutuhkan waktu selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, dan ketika sedang menunggu mereka mengalami penelantaran medis, yang mengakibatkan kematian sejumlah besar tawanan.

Dia mengingatkan, ada bahaya yang menganca, para tawanan yang sakit karena kurangnya perawatan dan pemeliharaan kesehatan, keterlambatan dalam prosedur bedah, kurangnya staf medis khusus, kurangnya obat-obatan yang diperlukan, kurangnya pemeriksaan medis berkala terhadap tawanan dan penolakan masuknya staf medis dari Kementerian Kesehatan Palestina. (Sumber : Info Palestina)

Bagikan