Gaza – Sahabat Palestina Memanggil+-
Kondisi ekonomi Palestina terus memburuk, tidak nampak adanya perbaikan. Wakil Menteri Pembangunan Sosial di Gaza, Ghazi Hamad, mengatakan sebanyak 70% dari penduduk yang terkepung di Jalur Gaza menderita kerawanan pangan. Sebanyak 33,8% dari mereka hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem.

Hamad melanjutkan, “Sejumlah besar penduduk Jalur Gaza terpaksa membeli makanan dan air minum dengan meminjam karena lemahnya pembiayaan pangan bagi keluarga-keluarga miskin dan tidak tersedianya air minum yang layak untuk diminum.”

Pakar dan analis ekonomi Osama Naufal, dalam perbincangan dengan koresponden Pusat Informasi Palestina, mengatakan bahwa pada tahun 2019 ini terjadi penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi sebagai akibat dari blokade dan perpecahan Palestina.

Dia menjelaskan bahwa tingkat pertumbuhan minus adalah dasar dan yang berlaku selama tahun 2019. Dia menyatakan bahwa data-data yang ada menunjukkan bahwa pada kuartal ketiga tahun 2019 tidak terjadi adanya perbaikan dalam situasi ekonomi Palestina khususnya di Jalur Gaza.

Dia menyatakan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi di Jalur Gaza mencapai minus 8. Sementara di Tepi Barat turun menjadi sekitar 2%. Dia mengingatkan adanya penurunan produksi domestik.

PDB per kapita menurun pada paruh pertama 2019 di wilayah Palestina sebesar 3,2%, di mana rasio per kapita sekitar 745 dolar.

Dia menjelaskan bahwa tingkat produksi domestik di Jalur Gaza menurun 4% dibandingkan dengan paruh terakhir tahun 2018. PDB per kapita di Gaza adalah 350 dolar dan di Tepi Barat turun sebesar 1,3%.

Naufal mengaitkan penurunan rasio PDB dengan penurunan aktivitas ekonomi di wilayah Palestina. Dia menyebutkan sejumlah alasan yang menyebabkan penurunan ini, terutama karena blokade Jalur Gaza, langkah-langkah Israel di Tepi Barat, kegagalan implementasi perjanjian yang ditandatangani antara Otoritas Palestina dan penjajah Israel.

Dia mengingatkan bahwa Indeks Siklus Bisnis Palestina, yang mengukur volume penjualan dan pembelian di wilayah Palestina, telah menurun secara signifikan di Tepi Barat, mencapai minus untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, sementara di Jalur Gaza mencapai minus 27.

Dia mengingatkan bahwa ada peningkatan signifikan dalam tingkat pengangguran di wilayah Palestina. Di Jalur Gaza mencapai 46% pada kuartal ketiga 2019. Sementara di Tepi Barat mencapai 18%.

Terkait dengan tingkat kemiskinan, dia menyatakan bahwa tingkat kemiskinan di Jalur Gaza mencapai 70%. Ini adalah angka yang tinggi menurut Naufal.

Dia mengatakan, kontribusi sektor produktif masih dalam kondisi menurun. Di mana sektor pertanian di Gaza memberikan kontribusi 4%. Sementara di Tepi Barat 3%. Sedangkan kontribusi industri di Jalur Gaza 6% dan di Tepi Barat 9%.

(sumber : info palestina)

Bagikan