Al-Quds – Sahabat Palestina Memanggil +-+-
Kejahatan pembakaran Masjid al-Kibli yang ada di dalam area Masjid al-Aqsha, bukanlah satu-satunya kejahatan yang dilakukan pendatang Yahudi sejak masjid tersebut diduduki oleh gerombolan pemukim pendatang Yahudi. Meskipun kejahatan pembakaran Masjid al-Aqsha yang terjadi 52 tahun yang lalu adalah kejahatan yang paling serius sejak pendudukan masjid pada tahun 1967, namun para pemukim pendatang Yahudi masih terus berusaha mencoba untuk membakarnya dengan melakukan yahudisasi dan penyerbuan-penyerbuan yang dilakukan setiap hari. Selain juga melakukan pemalsuan sejarah di setiap jalan di al-Quds, serta penggalian dan pengerukan di bawah Masjid al-Aqsha sepanjang waktu, sebagai upaya berpacu dengan waktu untuk meneguhkan ilusi mereka tentang keberadaan kuil yang mereka klaim di sana.Pada hari Sabtu (21/8/2021), kemarin, adalah bertepatan dengan peringatan 52 tahun pembakaran Masjid al-Aqsha yang diberkati.

52 tahun setelah ekstremis Yahudi Dennis Rohan membakar Masjid al-Qibli di Masjid al-Aqsha. Api menghancurkan sebagian besar masjid dan warisan sejarah dan agamanya. Jika bukan karena upaya warga al-Quds pada waktu itu memadamkan api, maka api akan membakar semua landmark agama dan tembok yang masih menjadi saksi kesucian Masjid al-Aqsha.

Peringatan pembakaran Masjid al-Qibli bukan lagi hal yang asing bagi rakyat Palestina. Karena peristiwa ini terjadi pada saat yang tidak jauh dari agresi yang dilancarkan oleh pendudukan penjajah Israel di Jalur Gaza, dimana nyala api pertama dari agresi ini adalah upaya gerombolan pemukim Yahudi untuk menyerbu dan menodainya selama bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Kebakaran terjadi di sisi timur tempat shalat yang terletak di sisi selatan masjid menghanguskan seluruh isinya, termasuk mimbar bersejarah Salahuddin al-Ayyubi, al-Qur’an, karpet dan barang-barang lainnya di dalam masjid. Sementara orang-orang al-Quds bergegas memadamkan api sambil meneriakkan takbir dengan air di sumur-sumur masjid, sebagai upaya untuk menghentikan api yang meluas ke seluruh penjuru masjid.

Meskipun waktu itu tentara pendudukan Israel memutus air ke tempat shalat tersebut dan mencegah truk pemadam kebakaran mencapai masjid, namun orang-orang al-Quds, bergerak sikap seperti yang mereka lakukan hari ini, mencegah serangan dan penutupan masjid yang dilakukan pendudukan Israel, meskipun kemampuan mereka terbatas hanya dengan membawa seembar kecil air, dan dengan cara tradisional. Namun akhirnya mereka mampu memadamkan api. Kemudian pendudukan Israel mengizinkan mobil pemadam kebakaran masuk untuk menutupi kejahatannya, dengan dalih bahwa apa yang terjadi adalah tindakan individu dan bukan rencana dari kelompok-kelompok dan pihak-pihak Zionis yang bekerja siang dan malam sampai sekarang untuk melakukan yahudisasi masjid, melalui pelanggaran yang mereka lakukan setiap hari dengan melakukan penggalian dan pengerukan di bawahnya, menodai halamannya, dan kemudian memanfaatkan setiap kesempatan untuk menghancurkannya.

Adapun setelah kebakaran, seperti semua orang tahu, maka reaksi pendudukan Israel sama seperti reaksi mereka ketika mereka membakar keluarga Dawabishah. Mereka berdalih bahwa aksi pembakaran keluarga Dawabishah pelakunya adalah orang “gila”, dan sakit jiwa, sebagai upaya untuk menutupi kejahatan mereka terhadap orang-orang Palestina.

Reaksi pendudukan Israel terhadap kejahatan ini, pada saat itu, sudah siap sebelumnya. Mereka berdalih bahwa kebakaran itu disebabkan oleh korsleting listrik. Setelah para teknisi listrik membuktikan bahwa apa yang terjadi adalah akibat tindakan orang, maka pendudukan Israel mengubah kebohongannya dengan kebohongan yang lain ketika menyatakan bahwa seorang pemuda asal Australia bernama Dennis Michael Rohan, dia yang bertanggung jawab atas pembakaran tersebut dan pelaku akan diajukan ke pengadilan. Tidak memakan waktu lama, sampai kemudian penjajah Israel mengklaim bahwa kondisi pelaku mentalnya tidak stabil dan gila. Sehingga akhirnya dia dibebaskan. Sebagaimana penjajah Israel juga membebaskn para pemukim pendatang Yahudi yang membakar keluarga Dawabsihah di desa Duma, selatan Nablus, beberapa tahun yang lalu.

Meskipun peristiwa yang terjadi 52 tahun lalu ini serius dan berbahaya, namun negara-negara Arab dan Islam hanya menanggapinya dengan kecaman. Tidak ada negara yang dapat merespon dengan menggendalikan penjajah Israel agar tidak melakukan tindakan-tindakan seperti peristiwa-peristiwa yang terjadi hari ini, seperti aksi-aksi penyerbuan, penggalian dan pelanggaran terhadap al-Aqsha, Al-Quds dan warga al-Quds. Bagaimana kita bisa melupakan apa yang dikatakan Perdana Menteri Pendudukan Israel Golda Meir 50 tahun yang lalu, “Ketika al-Aqsah dibakar, saya tidak tidur malam itu. Saya berpikir bahwa Israel akan dihancurkan. Tetapi ketika pagi datang saya menyadari bahwa orang-orang Arab sedang tidur nyenyak.”

(sumber/pip)
Bagikan